Memberdayakan Guru

Muhadjir Effendy
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI

Memberdayakan guru sebagai pendidik dan pengajar tidaklah mudah. Berbagai regulasi yang selama ini dibuat sering kali salah sasaran dan bahkan merugikan guru. Solusi alternatif di tengah keterbatasan regulasi dan peraturan tentu perlu dibuat.

Salah satu persoalan rumit yang dihadapi para guru adalah masalah beban kerja. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008, beban kerja guru adalah minimum 24 jam tatap muka per minggu, atau maksimum 40 jam. Bagi guru yang sudah memiliki sertifikat mendidik, terpenuhi tidaknya beban kerja bisa berimplikasi pada tunjangan profesi. Artinya, hak untuk mendapat tunjangan profesi bisa hilang apabila tidak bisa memenuhi beban kerja minimum, yaitu 24 jam tatap muka.

Baca lebih lanjut

Iklan

Keberadaan BK Dalam Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud ) pada bulan Mei 2018 telah meluncurkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yakni Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018 ( unduh di sini ) tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas  Sekolah beserta lampirannya ( unduh di sini ). Permendikbud ini dikeluarkan atas pertimbangan dari adanya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 ( unduh di sini )tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

Baca lebih lanjut

Siswa Generasi Z Tak Perlu Guru Lagi ?

Teori generasi (theory of generations or sociology of generations) pertama kali diutarakan oleh seorang sosiologis asal Hungaria bernama Karl Mannheim dalam sebuah essai berjudul “The Problem of Generations pada tahun 1923. 

Mannheim mendefinisikan bahwa generasi merupakan sebuah kelompok yang terdiri dari individu yang memiliki kesamaan dalam rentang usia, dan berpengalaman mengikuti peristiwa sejarah penting dalam suatu periode waktu yang sama. Dan dalam banyak essai berikutnya dia juga mengatakan perspektif, kesadaran sosial dan pencapaian kedewasaan dari kaum muda akan berjalan seiring dengan waktu dan tempat (dimana kejadian sejarah dalam era tersebut akan berpengaruh secara signifikan).

Baca lebih lanjut

Emphatic Relationship Dalam Konseling

Ruang yang leluasa untuk emosi konseli, tidak cukup hanya berkaitan dengan ruang secara fisik yang luas dengan sirkulasi yang baik, pencahayaan yang cukup, rapi dan bersih ( sebagaimana yang dijelaskan dalam menyiapkan konteks). Tapi lebih dari itu Ruang untuk emosi di sini lebih menitik beratkan bagaimana sikap kita yang memberi ruang, waktu dan kesempatan konseli untuk mengeksplorasi emosinya. Mengijinkan konseli untuk menyampaikan kekecewaannya pada gurunya, pada orang tuanya, atau kekecewaan yang lain. Baca lebih lanjut