Siswa Generasi Z Tak Perlu Guru Lagi ?

Teori generasi (theory of generations or sociology of generations) pertama kali diutarakan oleh seorang sosiologis asal Hungaria bernama Karl Mannheim dalam sebuah essai berjudul “The Problem of Generations pada tahun 1923. 

Mannheim mendefinisikan bahwa generasi merupakan sebuah kelompok yang terdiri dari individu yang memiliki kesamaan dalam rentang usia, dan berpengalaman mengikuti peristiwa sejarah penting dalam suatu periode waktu yang sama. Dan dalam banyak essai berikutnya dia juga mengatakan perspektif, kesadaran sosial dan pencapaian kedewasaan dari kaum muda akan berjalan seiring dengan waktu dan tempat (dimana kejadian sejarah dalam era tersebut akan berpengaruh secara signifikan).

Dari teori Mannheim para peneliti selanjutnya mulai mengganggap bahwa peristiwa sejarah besar pada saat itu (Perang Dunia I & II) sebagai patokan dalam pembagian generasi berikutnya, sehingga munculah istilah istilah untuk generasi berikutnya sesuai perilaku dan peristiwa sejarah yang dialami.

William Strauss dan Neil Howe yang mencoba mendefinisikan generasi-generasi yang ada di Amerika dalam buku mereka “Generations: The History of America’s Future, 1584 to 2069” (1991). Teori mereka tentang generasi ini banyak diambil oleh berbagai penulis jurnal dan buku yang membahas masalah-masalah antar generasi, salah satunya istilah “Generasi Z”.

Generasi Z adalah generasi yang lahir dari tahun 1995-2010, mereka  dibesarkan di era serba digital dan teknologi canggih. Tentunya hal ini berpengaruh terhadap perkembangan perilaku dan kepribadian mereka. Kiblat mereka adalah internet, sehingga mempermudah mereka mendapatkan akses informasi terkini. Sisi positif dari karakteristik generasi Z adalah mereka fasih dengan teknologi digital. Bill Gates menyebut generasi ini sebagai Generasi I atau Generasi Informasi.

Generasi ini cepat sekali belajar mengoperasikan gawai dan laptop. Mereka akrab dengan teknologi. Karena akrabnya, mereka menggunakan teknologi tidak hanya untuk hiburan saja, tetapi juga sebagai panduan saat mencari informasi.

Dulu, kalau kita memiliki pertanyaan, maka kita akan bertanya pada orang tua atau guru. Tidak demikian dengan generasi ini, setiap kali mereka memiliki pertanyaan, mereka akan lari ke internet. Saat mereka ingin tahu di mana toko yang menyediakan model pakaian tertentu, mereka menanyakan pada internet. Saat mereka ingin membuat black pepper chichen grill sandwich, mereka akan menanyakan pada internet apa resepnya dan bagaimana cara membuatnya. Ketika mereka sulit tidur, mereka lari ke internet, mencari apa penyebab dan obatnya. Saat mereka mendapatkan PR atau tugas dari sekolah, mereka pun akan bertanya pada internet. Internet adalah solusi enak bagi mereka. Tempat bertanya, yang mereka tidak perlu berlaku hormat ataupun berterima kasih padanya. Tempat bertanya, yang tanpa susah-susah akan mendapatkan jawabannya.

Peran Guru Dalam Era Digital Masih Sangat Dibutuhkan

Dalam sebuah seminar tentang membentuk karakter siswa di era digital, muncul sebuah pertanyaan. Jika informasi atau pengetahuan mudah didapatkan siswa, jika sumber informasi dan pengetahuan bukan lagi dari guru dan buku, tetapi dari internet, lalu apa fungsi guru?

Kehadiran Kurikulum 2013 yang mengusung kompetensi inti sikap religius, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan merupakan kepastian bahwa internet tidak dapat menggusur profesi guru. Bagaimana penjelasannya?

Pada era digital ini, guru memang bukan lagi sebagai sumber pengetahuan. Meskipun demikian, guru bisa membantu memilih dan memilah mana pengetahuan yang benar. Tidak semua pengetahuan yang terdapat di internet merupakan pengetahuan atau informasi yang benar. Inilah fungsi guru dalam kompetensi inti pengetahuan.

Karena guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, maka dalam pembelajaran guru harus lebih menggarap ranah afektif dan ranah motorik siswanya. Dalam ranah afektif, siswa dilatih bekerja sama, bukan lewat kata-kata. Mereka berlatih bekerja sama lewat kegiatan atau aktivitas pembelajaran. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh internet. Misalnya, pada saat belajar tentang makhluk hidup, alih-alih menghafalkan, guru mengajak siswa melakukan penelitian secara kelompok, kemudian mempresentasikannya. Dalam kegiatan tersebut, guru sudah melatih siswa bekerja sama dan berkomunikasi kepada sesama temannya. Dengan aktifitas-aktifitas pembelajaran, guru membantu siswa meningkatkan kecerdasan emosionalnya. Inilah fungsi guru dalam kompetensi inti sosial.

Seperti yang kita lihat sehari-hari, anak-anak digital atau generasi Z ini biasanya jarang bergerak. Nah, di sekolah guru memiliki kesempatan membuat siswa-siswa ini bergerak. Misalnya dengan mengadakan lomba kecepatan memasang jawaban pada pertanyaan, yang jawaban dan pertanyaannya diletakkan di tempat yang terpisah jauh. Inilah peran guru dalam mengembangkan motorik kasar siswa. Mengembangkan motorik tentu saja tidak dapat dilakukan oleh internet.

Kompetensi inti religius yang merupakan pembahasan terakhir dalam tulisan ini justru karena inilah yang utama bisa dilakukan oleh guru. Dalam dunia digital ini, kita temui manusia berkomunikasi secara maya dan diam saat bertemu muka. Manusia meluapkan kegalauan atau malah caci maki ke dunia maya, bukan menyimpan dalam hati dan meluapkan dalam curahan pada Sang Pencipta. Hal ini ditiru oleh anak-anak digital. Peran guru amat penting di sini. Menuntun mereka, mendasari dengan dasar agama dan etika, memberikan wejangan, memberikan teladan dan panutan.

Tentunya masih banyak hal yang akan diadaptasi oleh guru dalam menghadapi siswa generasi Z di era digital ini. Bagian tugas berat ini, diperlukan guru yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kuat mental dan akhlaknya.

Harapan

Untuk mendampingi anak-anak digital ini guru juga dituntut agar mempunyai wawasan global dalam arti  guru harus  memiliki pemahaman akan pentingnya teknologi internet dan mampu memanfaatkannya dalam pengembangan pembelajarannya. Guru harus senantiasa memiliki kesadaran akan perlunya peningkatan kompetensinya masing-masing sehingga selalu berupaya mengikuti kegiatan pelatihan baik secara mandiri maupun kegiatan kolektif yang dilaksanakan oleh institusi terkait.

Peran guru dalam era digital saat ini masih sangat dibutuhkan dan tidak bisa tergantikan oleh komputer maupun internet antara lain : peran guru sebagai pembimbing dalam menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar,  peran guru sebagai evaluator dan motivator dalam melakukan tindakan terhadap permasalahan siswa, peran guru sebagai  konselor dalam pembinaan karakter siswa yang berkepribadian luhur sebagai banga Indonesia, peran guru dalam mengembangkan kreatifitas dan inovatif siswa melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Guru demikianlah yang akan mengantarkan generasi digital menjadi generasi yang kuat, siap menghadapi perubahan dan perkembangan dan tidak tergerus oleh zaman.#

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s