Need Assesment Berbasis IT

Dalam Implementasi Kurikulum 2013 diarahkan untuk penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam  Pengembangan Kurikulum  dilakukan atas dasar kesadaran Ilmu pengetahuan dan teknologi ( IPTEK )berkembang secara dinamis, semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan IPTEK. Berawal dari penguatan-penguatan tersebut maka guru dalam setiap kegiatan belajar mengajar di kelas diharapkan mampu mengoperasikan computer atau pembelajaran berbasis IT.

Di dalam struktur Kurikulum 2013 mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi  ditiadakan sebab setiap guru sudah harus menguasai IT dalam setiap materi yang disajikan kepada peserta didik atau dengan kata lain TIK sudah terintegrasi dalam setiap proses pembelajaran. Pengusaan IT juga harus dimiliki oleh Guru BK / Konselor terutama dalam pengumpulan data awal. Untuk mempermudah dalam pengumpulan data banyak software yang  dapat digunakan, dan penggunaan software ini membutuhkan penguasaan IT. Saya akan berusaha untuk menshare di blog Bimbingan dan Konseling beberapa software yang dapat digunakan oleh guru BK/Konselor dalam pengumpulan data awal.

Sebelum membicarakan masalah software yang akan saya share di akhir tulisan ini perlu pemahaman tentang assesmen, di bawah ini pembahasan tentang Konsep Dasar Asesmen Dalam Bimbingan dan Konseling  yang dikutip dari berbagai sumber.

Hakekat Assesmen

Assesmen adalah penilaian terhadap diri individu guna pemberian pelayanan bimbingan dan konseling agar sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan masalah konseli. Pemahaman diri konseli harus didasarkan pada adanya keterangan tentang diri yang akurat dan sahih. Data diri yang tidak akurat bisa menimbulkan pemahaman yang keliru. Data yang demikian hendaknya juga dibarengi dengan pengamatan terhadap konseli. Untuk itu diperlukan instrumen assesmen baik dalam bentuk tes maupun non tes.

Cronbach (1984) mengatakan bahwa penggunaan tes dimaksudkan untuk memajukan pemahaman diri. Disamping itu penggunaan tes juga dimaksudkan untuk klasifikasi, evaluasi dan modifikasi program atau perlakuan, dan penyelidikan ilmiah. Klasifikasi mengacu pada penggolong-golongan seseorang berdasarkan hasil tes,termasuk dalam pengertian klasifikasi ini adalah seleksi, skrining, sertifikasi, dan penempatan.Evaluasi dan modifikasi program atau perlakuanmengacu pada hasil suatu perlakuan yang diterapkan. Dan penyelidikan ilmiahmengacu pada perolehan data sahih dan andal mengenai variabel-variabel yang diteliti dan hubungan-hubungannya.

Hal penting yang harus dicatat bahwa ukuran yang dihasilkan dalam pengetesan (atau pengukuran psikologis) itu nisbi sifatnya. Dengan kata lain angka hasil pengukuran itu tidak mutlak seperti halnya kalau kita mengukur panjang atau tinggi suatu benda. Setelah menjalankan assesmen, tugas konselor adalah menafsirkan hasil assesmen dan mengkomunasikan hasilnya kepada konseli, sehingga konseli memperoleh pemahaman yang benar, tidak menyesatkan tentang arti skor yang diperoleh dan konseli memperoleh pemahaman diri yang sesuai dengan kenyataan.Pengertian lain yang perlu dipunyai konseli adalah apa yang berhasil diungkapkan melalui assesmen bukan gambaran keseluruhan dirinya melainkan wakil dari keseluruhan segi kepribadian yang diukur.

Penggunaan assesmen dalam bimbingan dan konseling, lebih-lebih terkait dengan penanganan kasus, bukan sesuatu yang berjalan secara otomatis atau mekanistis. Dalam penggunaan instrumen assesmen hal yang harus dipertimbangkan adalah pertanyaan apakah memang diperlukan. Kalau setelah dipertimbangkan dan jawabnya diperlukan, maka hal yang perlu dipertimbangkan selanjutnya adalah keputusan tentang instrumen assesmen mana yang akan diberikan pada konseli sesuai denganprosedur baku yang ditetapkan, penskorannya tetap (teliti, cermat) dan penafsiran datanya tepat dengan memperhatikan berbagai hal, baik teknis maupun non teknis,

Berkaitan dengan perancangan program bimbingan dan konseling, penyusunan program bimbingan dan konseling selalu diawali dengan analisis kebutuhan peserta didik. Untuk mengetahui kebutuhan peserta didik (need assessment) tersebut, biasanya dilakukan dengan menggunakan suatu instrumen baik tes maupun non tes. Instrumen yang telah dikembangkan di lapanganantara lain : Inventori Tugas Perkembangan (ITP), Alat Ungkap Masalah (AUM), Daftar Cek Masalah (DCM), atau Angket Kebutuhan Materi Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Hasil need assessment tersebut sebagai dasar penyusunan program pelayanan bimbingan dan konseling.

Pengertian Assesmen

Asesmen adalah proses mengumpulkan, menginterpretasikan, dan mensintesiskan informasi dengan tujuan untuk membuat keputusan. Kegiatan assesmen juga diartikan kegiatan pengukuran yang dilengkapi dengan observasi.Robert M Smith (2002)mendefinisikan assesmen “Suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hasil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran”. Sedangkan James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis mendefinisikan assesmen sebagai“Proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif”.

Berdasarkan pada definisi tersebut,apabila dikaitkan dengan pelayanan bimbingan dan konseling, assesmen dapat diartikan suatu proses komprehensif dan sistematis dalam mengumpulkan data peserta didik untuk melihat kemampuan dan kesulitas yang dihadapi sebagai bahan untuk menentukan kebutuhan nyata. Data terebut digunakan dalam penyusunan program pelayanan bimbingan dan konseling.

 Tujuan Assesmen

Lidz (2003) mendefinisikantujuan assesmen untuk melihat kondisi anak saat itu. Hasil assesmen digunakan sebagai bahan untuk menyusun program pelayanan bimbingan dan konseling yang tepat dan dapat melakukan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat. Sedangkan Robb (2006), menyebutkan tujuan assesmen sebagai berikut :

  1. Untuk menyaring dan mengidentifikasi anak
  2. Untuk membuat keputusan tentang penempatan anak
  3. Untuk merancang individualisasi pendidikan
  4. Untuk memonitor kemajuan anak secara individu
  5. Untuk mengevaluasi keefektifan program.

Sumardi & Sunaryo (2006), menyebutkan tujuan assesmen sebagai berikut :

  1. Memperoleh data yang relevan, objektif, akurat dan komprehensif tentang kondisi anak saat ini
  2. Mengetahui profil anak secara utuh terutama permasalahan dan hambatan belajar yang dihadapi, potensi yang dimiliki, kebutuhan-kebutuhan khususnya, serta daya dukung lingkungan yang dibutuhkan anak
  3. Menentukan layanan yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan khususnya dan memonitor kemampuannya.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa “Asesmen dilakukan untuk mengetahui keadaan anak pada saat tertentu (waktu dilakukan asesmen) baik potensi-potensinya maupun kelemahan-kelemahan yang dimiliki anak sebagai bahan untuk menyusun suatu program pelayanan bimbingan dan konseling sehingga dapat melakukan layanan/intervensi secara tepat.

 Prinsip-prinsip Assesmen

Betapapun sempurnanya instrumen assesmen, apabila tidak memperhatikan prinsip-prinsip assesmen, maka hasil yang diperoleh tidak akan seperti yang diharapkan. Prinsip-prinsip assesmen tersebut adalah:

a.   Sesuai dengan norma masyarakat atau filosofi hidup

Prinsip ini berkaitan erat dengan filsafat dan tata nilai (norma) hidup yang berlaku di masyarakat. Artinya setiap tahapan assesmen yang dilakukan jangan sampai bertentangan dengan filsafat hidup dan tata nilai yang berlaku di masyarakat.

b.   Keterpaduan

Assesmen hendaknya merupakan bagian integral dari program atau sistem pendidikan. Dengan demikian assesmen merupakan salah satu dimensi yang harus dipenuhi dalam penyusunan program disamping pemenuhan guna mencapai tujuan, bahan, metode, dan alat pelayanan. Oleh karena itu, perencanaan assesmen harus sudah ditetapkan pada saat perencanaan program, sehingga antara jenis instrumen assesmendan tujuan pelayanan, alat pelayanan tersusun dalam satu pola keterpaduan yang harmonis.

c.   Realistis

Pelaksanaan assesmen harus didasarkan pada apakah sesuatu yang akan diukur itu benar-benar dapat diukur? Dengan kata lain, isntrumen assesmen yang akan digunakan harus memiliki batasan atau indikator-indikator yang jelas, operasional, dan dapat diukur.

d.   Tester yang terlatih (qualified)

Mengingat tidak semua orang dapat melakukan atau mengelola suatu program assesmen, maka sangat diperlukan orang yang mampu melakukan atau qualified. Hal ini harus benar-benar diperhatikan, karena keputusan yang akan diambil merupakan hal yang sangat penting bagi sasaran assesmen.

e.   Keterlibatan peserta didik

Untuk dapat mengetahui sejauh mana peserta didik berhasil dalam proses pelayanan bimbingan dan konseling yang dijalaninya secara aktif, maka peserta memerlukan suatu assesemen. Dengan demikian, assesmen bagi peserta didik merupakan tuntutan atau kebutuhan. Pelaksanaan assesmen oleh konselor merupakan upaya dalam memenuhi tuntutan atau kebutuhan peserta didik akan layanan bimbingan dan konseling

f.    Padagogis

Disamping sebagai alat, assesmen juga berperan sebagai upaya untuk perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari sisi pedagogis. Assesmen dan hasil-hasilnya hendaknya dapat dipakai sebagai alat untuk memotivasi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Hasil assemen hendaknya juga dirasakan sebagai penghargaan bagi peerta didik.

g.   Akuntabilitas

Keberhasilan proses pelayanan bimbingan dan konseling perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban (accountability). Pihak-pihak tersebut antaralain: orangtua siswa, masyarakat, calon pemakai lulusan, sekolah, dan pemerintah. Pihak-pihak tersebut perlu mengetahui keadaan atau tingkat kemajuan belajar siswa atau lulusan agar dapat dipertimbangkan pemanfaatan atau tindak lanjutnya.

H.  Teknik Assesmen yang Bervariasi dan Komprehensip

Agar diperoleh hasil assesmen yang objektif, dalam arti dapat menggambarkan prestasi atau kemampuan peserta didik yang sebenarnya, maka assesmen harus menggunakan berbagai teknik dan sifatnya komprehensif. Dengan sifat komprehensif, dimaksudkan agar kemampuan dan permasalahan yang diungkapkomprehensif yang mencakup berbagai bidang pelayanan bimbingan dan konseling.

i.    Tindak Lanjut

Hasil assesmen hendaknya diikuti dengan tindak lanjut. Data hasil assemen sangat bermanfaat bagi konselor, tetapi juga sangat bermanfaat bagi peserta didik, dan sekolah. Oleh karenanya perlu dikelola dengan sistem administrasi yang teratur. Hasil assesmen harus dapat ditafsirkan sehingga konselor dapat memahami kemampuan dan permasalahan setiap peserta didik sehingga dapat dijadikan dasar dalam penyusunan program pelayanan bimbingan dan konseling sehingga sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan masalah peserta didik.

Klik untuk melihat tampilan software BK

KLIK DI SINI

4 thoughts on “Need Assesment Berbasis IT

  1. saya sangat setuju tentang tulisannya dan mohon kiranya pak sudrajat merinci secara mendetail agar saya dapat menggunakannya di sekolah saya trims atas infonya

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s