Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di PAUD / TK

CIMG0289Judul di atas adalah materi  seminar nasional yang dilaksanakan di kampus IKIP PGRI Jember  pada hari Minggu, 01 Desember 2013 dengan peserta dari kalangan mahasiswa program studi Bimbingan Konseling dan Program studi PAUD seluruh Jawa Timur serta sebagian guru BK di Kabupaten Jember.

Materi selengkapnya bisa di baca di bawah ini sebagai referensi tentang pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah terutama dalam satuan jalur pendidikan formal di PAUD /TK.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58  Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini menyatakan bahwa Tingkat pencapaian perkembangan menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan dicapai anak pada rentang usia tertentu

Perkembangan anak yang dicapai merupakan integrasi aspek pemahaman nilai-nilai agama dan moral, fisik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional. Pertumbuhan anak yang mencakup pemantauan kondisi kesehatan dan gizi mengacu pada panduan kartu menuju sehat (KMS) dan deteksi dini tumbuh kembang anak.

 Perkembangan anak berlangsung secara berkesinambungan yang berarti

bahwa tingkat perkembangan yang dicapai pada suatu tahap diharapkan meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif pada tahap selanjutnya. Walaupun setiap anak adalah unik, karena perkembangan anak berbeda satu sama lain yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, namun demikian, perkembangan anak tetap mengikuti pola yang umum. Agar anak mencapai tingkat perkembangan yang optimal, dibutuhkan keterlibatan orang tua dan orang dewasa untuk memberikan

rangsangan yang bersifat menyeluruh dan terpadu yang meliputi pendidikan, pengasuhan, kesehatan, gizi, dan perlindungan yang diberikan secara konsisten melalui pembiasaan. Tingkat pencapaian perkembangan disusun berdasarkan kelompok usia.

Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah  Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar  Nasional Pendidikan pasal 77G ayat 1  dinyatakan bahwa “Struktur kurikulum pendidikan anak usia dini formal berisi program pengembangan nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional dan seni”.

Mengutip dari pidato Ibu Negara Hj.Ani Bambang Yudhoyono dalam acara Rakornas Bunda PAUD Indonesia 2013 di Istana Negara dinyatakan bahwa “Pada usia 0-6 tahun seorang anak akan mengalami periode golden age atau usia emas. Pada fase tersebut, perkembangan mental dan spiritual anak terbentuk. Oleh karena diusulkan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar, Kemdikbud juga dapat mempertimbangkan wajib belajar pada Taman Kanak-kanak, yang merupakan bagian dari PAUD. PAUD adalah basic education yang tidak bisa diabaikan. Ini juga tanggung jawab orangtua untuk menyukseskan pendidikan anak usia dini, sesuai dengan perannya masing-masing.

Pengalaman anak di tahun-tahun pertama akan menentukan apakah sang anak nantinya mampu menghadapi tantangan dan berhasil dalam pekerjaannya. Pendidikan usia 0-6 tahun merupakan masa untuk menanamkan karakter pada anak. Ini lebih berharga daripada investasi apapun, Ada lima komponen yang harus dipenuhi agar PAUD berhasil, yaitu kesehatan, gizi, perlindungan, perawatan, dan pengasuhan. Jika lima komponen tersebut terpenuhi,setiap anak Indonesia menjadi anak yang sehat, cerdas, ceria, kreatif, dan berakhlak mulia.

Sampai saat ini, jumlah anak usia dini 0-6 tahun mencapai 32,7 juta. Dari jumlah tersebut, yang telah terlayani sebanyak 12,6 juta atau sebanyak 38,57 persen. Untuk meningkatkan target Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD pada usia 0-6 tahun. Ada tiga hal yang harus ditingkatkan. Pertama, dengan memasukkan PAUD sebagai pendidikan pradasar, sebelum anak memasuki pendidikan dasar. Kedua, memperluas peran masyarakat dan swasta dalam penyelenggaraan PAUD. Dan ketiga, meningkatkan peran Bunda PAUD di Kabupaten dan Kota. “Bunda PAUD adalah profesi sukarela yang dilandasi rasa kasih sayang sehingga harus dapat menjadi lokomotif untuk dapat mendorong segenap elemen.

Peran Bimbingan dan Konseling Pada Satuan Jalur Pendidikan Formal Dalam Implementasi Kurikulum 2013

Bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari istilah “guidance” dan “counseling” dalam bahasa Inggris. Secara harfiah istilah “guidance” berasal dari akar kata “guide” yang berarti : (1) mengarahkan (to direct), (2) memandu (to pilot), (3) mengelola (to manage), dan (4) menyetir (to steer) sedangkan ”counseling” menurut Shertzer dan Stone (1980) disimpulkan “Counseling is an interaction process which facilitates meaningful understanding of self and environment and result in the establishment and/or clarification of goals and values of future behavior” (Syamsu Yusuf, 2006) 

      Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa bimbingan dan konseling di sekolah adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung,  berdasarkan norma-norma yang berlaku. Definisi tersebut dipertegas dalam Panduan Pengembangan Diri (2006) yang menyebutkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan bimbingan dan konseling  memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan bimbingan dan konseling ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.

Dasar pemikiran penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling dalam satuan jalur pendidikan formal bukan semata-mata terletak adanya hukum (perundang-undangan) yang berlaku, tetapi yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek fisik, emosi, sosial, intelektual, dan moral spiritual. Peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses berkembang yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut individu memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling karena mereka masih kurang memiliki pemahaman dan wawasan tentang diri dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat keniscayaan bahwa proses perkembangan tidak selalu berjalan mulus dan bebas dari masalah.  Bimbingan dan konseling dalam satuan jalur pendidikan formal penting, mengingat bahwa perkembangan peserta didik pada masing-masing jenjang pendidikan akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, misalnya perkembangan di PAUD/TK akan berpengaruh pada perkembangan selanjutnya, dimana perkembangan di SD/MI-SMP/MTs-SMA/MA/SMK, dan PT sangat ditentukan oleh bagaimana keberhasilan anak melampaui masa sekolahnya di PAUD/TK. Perkembangan di SD/MI dipengaruhi oleh perkembangan di /PAUDTK dan mempengaruhi perkembangan di SMP/MTs, SMA/MA/SMK dan PT, dan seterusnya.

 Materi selengkapnya bisa di unduh DI SINI

2 thoughts on “Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di PAUD / TK

  1. Ping-balik: Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di PAUD / TK | retnoayuning

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s