Opini Tentang Penyelenggaraan Layanan BK Di Sekolah

Melihat kondisi  perilaku peserta didik kita sekarang ini memang sangat memprihatinkan. Pengaruh berkembangnya teknologi memang begitu dahsyat sudah merambah ke berbagai  kalangan, tak luput juga terjadi terhadap  gaya pergaulan peserta didik kita. Berita terhangat tindakan asusila dilakukan oleh siswa di sekolah, sehingga menimbulkan polemik di kalangan guru BK, sebab ada “pejabat publik” seakan-akan guru BK-lah yang bersalah.

Salahkan dia mengatakan seperti itu ? sebenarnya pendapat itu  tidak seratus persen salah. Coba kita lihat kembali apa yang kita lakukan selama  ini tentang penyelenggaran layanan bimbingan dan konseling di sekolah, sudahkan sesuai dengan  kode etik  seorang konselor sebagai sebuah profesi.

Hanya bermaksud untuk meluruskan kembali tentang tugas sebenarnya yang harus dilakukan oleh seorang guru  BK / konselor sekolah dan tidak bermaksud menyalahkan, sebab ada sebagian guru  BK / konselor sekolah masih belum mengerti tentang kode etik yang harus dijaga dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling.

Dimulai dari kepala sekolah, guru mata pelajaran, orang tua serta siswa sebagai seorang klien masih belum mengerti bahwa guru BK / Konselor adalah sebuah profesi. Sebenarnya mereka butuh penjelasan tentang apa sebenarnya bimbingan konseling itu.

Dari ketidak tahuan mereka maka timbul berbagai macam permasalahan yang melibatkan guru BK /Konselor sekolah sehingga muncul berbagai macam opini tentang guru BK / Konselor sekolah.

  • Apa sebenarnya yang dikerjakan oleh Guru BK  ? Jawabnya ada yang mengatakan bahwa pekerjaannya ialah menangani anak-anak nakal, mengusut peristiwa yang tidak layak seperti mencuri, membolos, mononton pornografi, merokok, miras, melanggar tata tertib sekolah dan lain sebagainya.
  • Sehingga konselor sekolah di beri julukan “polisi sekolah” yang menjaga keamanan dan ketertiban sekolah, maka tidak lebih dari tugas seorang “satpam” di lingkungan sekolah.
  • Seperti memberi nasehat, membujuk para siswa agar berbuat baik, patuh, sopan, menjaga citra sekolah sehingga diberi gelar “Terhormat” sebagai “Guru Budi Pekerti”
  • Atau diberi tugas absensi siswa, mencegat siswa yang terlambat, mencatat kegiatan siswa ijin keluar, memuat statistik tentang jumlah murid atau sebagai petugas sosial/ kesejahteraan.
  • Konselor Sekolah yang “Demokratis” dan terbuka bagi kepentingan sekolah, ia akan memberikan pelayanan apa saja yang diinginkan oleh pimpinan sekolah.

Guru BK/Konselor Sekolah

  • Beberapa dari segi keterampilan belum mencapai tingkat  yang diharapkan
  • Ada indikator kurang berperannya Guru BK/konselor sekolah di sekolah dan penampilan dalam   melaksanakan tugasnya
  • Tugas pokok guru BK/konselor sekolah belum melaksanakan sepenuhnya terutama pada layanan bimbingan dan konseling
  • Guru BK/Konselor Sekolah………. mengalami beberapa hambatan :
  1. Keterampilan Guru BK/konselor sekolah belum dilaksanakan dirasakan  manfaatnya  oleh sebagaian besar siswa asuh, hanya siswa asuh tertentu yang dilayani dan yang tidak mempunyai permasalahan hampir tidak tersentuh
  2. Belum semua Guru BK/konselor sekolah memiliki keinginan/ kemauan berpenampilan   atau   berperilaku standart  yang ideal,  masih  ada   yang   melakukan   tugas – tugas  dengan pelanggaran  Kode Etik Konselor.
  3. Belum semua guru BK/konselor sekolah memanfaatkan  data siswa asuh secara baik, hal ini dikarenakan kurang terampilnya dalam menghimpun data yang lengkap dan akurat.
  4. Guru BK/Konselor Sekolah belum memanfaatkan   waktu-waktu luang, baik jam sebelum pelajaran berlangsung maupun jam istirahat berlangsung untuk mendekati siswa asuhnya.
  5. Masih adanya Guru BK/konselor sekolah melakukan kekerasan terhadap siswa asuhnya  khususnya kekerasan verbal.
  6. Guru BK/Konselor Sekolah belum sepenuhnya mengembangkan dan memajukan Bimbingan dan Konseling baik sebagai keilmuan maupun profesi.

Guru Mata Pelajaran Hasil Monitoring Disekolah

Guru BK/Konselor Sekolah, menurut guru mata pelajaran belum/kurang dalam mejalin kerja sama dengan personal sekolah.

  • Permasalahan siswa secara transparant tidak pernah disampaikan kepada guru atau wali kelas, maka kesulitan untuk mebantu Konselor Sekolah.
  • Apabila dijumpai siswa yang menyimpang dan perlu mendapatkan perhatian, kenyataan Konselor kurang tanggap menanggapi secara serius, keluhan guru.
  • Kadang guru mata pelajaran merasa terganggu apabila siswanya tidak mengikuti pembelajaran, karena diminta guru BK/konselor sekolah untuk konseling atau sedang konsultasi.

Kepala Sekolah

  • Menurut Kepala Sekolah, guru BK/konselor sekolah  pada umumnya bernilai lebih bila dibanding dengan guru mata pelajaran.
  • Kepala Sekolah akan memberi tugas, baik yang berkaitan dengan bidangnya maupun diluar bidangnya.
  • Tugas bidangnya antara lain dilimpahkan segala permasalahan yang berkaitan dengan siswa atau bidang kesiswaan.
  • Selain itu bila guru cuti atau kekurangan guru Kepala Sekolah mudah menugaskan guru BK/konselor sekolah untuk mengajar dan juga membantu menyelesaikan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan kebijakan Kepala Sekolah.
  • Kebijakan kepala sekolah menjadikan guru mapel sebagai guru BK/konselor sekolah di karenakan kekurangan jam mengajar.
  • Guru BK/Konselor diberi tugas sebagai wali kelas di karenakan adanya kebijakan pemerataan tugas tambahan.

S I S W A

  • Karena kesibukan Guru BK/konselor sekolah (merangkap staf sekolah atau wali kelas) menyulitkan para siswa asuh untuk proses pelayanan bimbingan dan konseling
  • Siswa asuh kesulitan untuk menemui Guru BK/konselor sekolah, karena di dalam ruang konseling terdapat guru-guru atau orang lain yang berada di ruang tersebut.
  • Siswa asuh merasa takut dan atau malu terhadap guru BK/konselor sekolah
  • Keinginan siswa mengharapkan pada sat jam istirahat atau diluar jam belajar, guru BK/konselor dapat lebih mudah ditemui.
  • Siswa asuh menginginkan guru BK/konselor sekolah di beri jam tatap muka, agar layanan informasi dan bimbingan yang dibutuhkan siswa terlayani dengan baik.
  • Apabila guru  BK/konselor sekolah hanya masuk kelas pada jam-jam kosong, sebagaian siswa kurang senang dam apabila tidak ada jam kosong konselor sekolah tidak pernah masuk kelas.

Orang Tua Siswa

  • Kenyataan banyak dijumpai bahwa orang tua/wali siswa menganggap pendidikan adalah tanggung jawab sekolah dan mereka merasa puas kalau masalah anaknya ditangani sekolah.
  • Masih ada orang tua belum mengetahui manfaat dan fungsi pelayanan Bimbingan dan  Konseling di Sekolah, sebagai peranan penting untuk perkembangan anaknya.Orang tua siswa memandang yang perlu dilayani bimbingan dan konseling adalah siswa-siswi yang melakukan penyimpangan,  melanggar tata tertib, sulit diatur di rumah, adanya pergaulan bebas atau kenakalan remaja.
  • Masalah lain orang tua siswa asuh jarang berkonsultasi dengan konselor sekolah dan paling tidak suka, apabila di undang ke Sekolah cenderung tidak hadir, atau sebaliknya konselor sekolah berkunjung ke rumah kadang ada orang tua siswa asuh kurang berkenan untuk menyelesaikan, masalah/ permasalahan anaknya.

Dikutip dari : Rudi Gunawan, S.Pd dan berbagai sumber.

3 thoughts on “Opini Tentang Penyelenggaraan Layanan BK Di Sekolah

  1. 1. Mengapa rahasia klien harus dijaga oleh seorang konselor ?
    2.Jelaskan hubungan kolaborasi guru kelas dengan guru BK

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s