Pola Asuh Dalam Keluarga

Rudi Gunawan J, S.Pd    Konselor Sekolah

Rudi Gunawan J, S.Pd
Konselor Sekolah

Pada era globalisasi ini terdapat berbagai dampak pada masyarakat, baik yang positif maupun yang negatif. Dampak positif globalisasi adalah perkembangan teknologi yang semakin canggih sehingga mempermudah seseorang untuk memperoleh berbagai informasi yang tidak terbatas. Informasi dapat berupa hiburan, pengetahuan dan teknologi, yang diperoleh dan berbagai cara seperti : TV, Video, Film-Film, Internet dan sebagainya. Kemudahan informasi memang memuaskan keinginan tahu kita serta dapat mengubah nilai dan pola hidup seseorang, termasuk sikap orang tua terhadap anaknya dan pola asuh yang diterapkan dalam mendidik anak.

Sedangkan dampak negatif yang ditakuti adalah gaya hidup “Barat”, yang sangat menonjolkan sifat individualistik dan bebas. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyak timbulnya masalah psikososial pada remaja seperti penyalah gunaan narkotika dan obat terlarang, perilaku seks bebas dan menyimpang, kriminalitas anak, perkelahian masal (tawuran), sehingga banyak mengakibatkan kegagalan pendidikan, atau kegagalan dibidang lain. Dampak negatif era globalisasi ini lebih cepat diadopsi oleh anak- anak sehingga mereka sangat rentan terhadap pengaruh negatif globalisasi tersebut.

Bagaimana semua informasi dan pengaruh asing itu agar tidak berdampak buruk? Sebagai orang tua tentu berharap mereka dapat menyaring informasi apa yang berguna yang patut dicontoh dan apa yang dapat merugikan yang harus dijauhinya. Kepandaian anak dan remaja dalam menyiasati hal tersebut tentu tidak lepas dan peran orang tua dalam memberikan pola asuh dan pendidikan yang tepat bagi anak- anaknya.

Anak merupakan masa depan keluarga bahkan bangsa oleh sebab itu perlu dipersiapkan agar kelak menjadi manusia yang berkualitas, sehat, bermoral dan berguna bagi dirinya, keluarga dan bangsanya. Seharusnya perlu dipersiapkan sejak dini agar mereka mendapatkan pola asuh yang benar saat mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan. Pola asuh yang baik menjadikan anak berkepribadian kuat, tak mudah putus asa, dan tangguh menghadapi tekanan hidup.

Ada tiga faktor yang berpengaruh dalam membentuk kepribadian anak yaitu:

  1. Faktor Individu/Faktor bawaan :

Sifat yang dibawa anak sejak lahir seperti pnyabar, pemarah, pendiam,    banyak bicara, dll.

  1. Faktor Pola asuh orang tua, sejak anak lahir sampai akhir masa remaja
  2. Faktor lingkungan (dan luar diri anak) yang mempengaruhi proses perkembangan anak. Meliputi lingkungan rumah atau keluarganya, dan hal lain sepenti budaya, sarana dan prasarana yang tersedia.

Tahapan-tahapan perkembangan psikososial

Pola asuh anak harus disesuaikan dengan tahap perkembangan. Perkembangan anak sejak lahir sampai akhir masa remaja, merupakan fondasi dalam membentuk kepribadian anak.

Erik Erikson menggambarkan tahapan-tahapan perkembangan yang harus dilalui seseorang dan masa anak sampai kemasa tua. Apabila tahapan-tahapan itu dapat dilalui dengan baik, maka akan tercermin dalam fungsi kepribadiannya yang matang.

Tahapan perkembangan psikososial adalah :

  1. Rasa percaya/aman (sense of basictrust) yang berkembang sekitar sejak lahir usia I tahun, nasa percaya ini akan mendukung anak hidup di lingkungan yang baru dengan rasa aman dan nyaman.
  2. Rasa otonomi diri (sense of autonomy) yang berkembang sekitar usia 1 – 3 tahun, rasa otonorni diri ini mngakibatkan terbentuknya “self confidence” dan “self awareness” yang penting untuk berkembangnya anak dikemudian hari mempunyai nasa keyakinan diri (lebih percaya din).
  3. Rasa mampu berinisiatif (sense of initiative) yang berkembang sekitar usia umur 3 – 8 tahun, rasa mampu berinisiatif itu menjadi bekal untuk terbentuknya “role anticipation and role experimentation” (kemampuan antisipasi dan kemampuan untuk mecoba). Tahap ini penting untuk menimbulkan keinginan dan rasa mampu berperan secara bermakna dalam masyrakat di kemudian hari.
  4. Rasa mampu menghasilkan sesuatu (sense of industiy) yang berkembang sekitar usia 6 – 12 tahun, rasa “mampu menghasilkan” ini menjadi terbentuknya “task identification” (identifikasi peran) dan “apprenticeship” (keberanian untuk mengambil risiko). Pada tahap ini mempunyai peran penting untuk menimbulkan keyakinan akan kemampuannya untuk berkarya dan produktif dikemudian hari.
  5. Identitas atau citra diri (sense of identity). Berkembang sekitar usia 12 – 18 tahun (sampai akhir masa remaja). Mengembangkan rasa identitas adalah tugas utama dan periode ini, yang bertepatan dengan masa pubertas dan masa remaja. Identitas didefinisikan sebagai karakteristik yang membentuk seseorang dan kemana tujuan mereka. Identitas yang sehat dibangun pada keberhasilan mereka melewati stadium yang lebih awal. Bagaimana keberhasilan mereka mendapatkan kepercayaan, rasa otonomi, inisiatif, dan industri mempunyai banyak pengaruh dengan perkembangan rasa identitas.

Pola Asuh

Pola asuh adalah kegiatan kompleks yang meliputi banyak perilaku spesifik yang bekerja sendiri atau bersama yang memiliki dampak pada anak. Tujuan utama pola asuh yang normal adalah menciptakan kontrol. Meskipun tiap orang tua berbeda dalam cara mengasuh anaknya, namun tujuan utama orang tua dalam mengasuh anak adalah sama yaitu untuk mempengaruhi, mengajari dan menaontrol anak mereka.

Gaya Pola Asuh

Gaya pola asuh memiliki 2 elemen penting, yaitu : parental responsiveness (respons orang tua) dan parental demandingness (tuntutan orang tua).

Parental Responsiveness (respons orang tua)

Respons orang tua adalah orang tua yang secara sengaja dan mengatur dirinya sendiri untuk sejalan, mendukung dan menghargai kepentingan dan tuntutan anaknya.

Parental demandingness (tuntutan orang tua)

Tuntutan orang tua adalah orang tua menuntut anaknya untuk menjadi bagian dari keluarga dengan pengawasan, penegakkan disiplin dan tidak segan memberi hukuman jika anaknya tidak menuruti.

Selain respons dan tuntutan, gaya pola asuh juga ditentukan oleh faktor yang ketiga, yaitu kontrol psikologis (menyalahkan, kurang menyayangi atau mempermalukan).

Pembagian Pola Asuh secara Umum

Secara individual, orang tua memiliki hubungan yang khas dengan anak namun para peneliti telah mengidentifikasikan 3 macam pola asuh yang umum. Ketiga pola asuh ini telah terbukti berhubungan dengan perilaku dan kepribadian anak. Pembagian 3 macam pola asuh secara umum ini dinamakan : Authoritative, Authoritarian, dan Permissive.

  1. Pola asuh Authoritative/Demokrasi

Pola asuh ini ditandai dengan orang tua yang memberikan kebebasan yang memadai pada anaknya tetapi memiliki standar perilaku yang jelas. Mereka memberikan alasan yang jelas dan mau mendengarkan anaknya tetapi juga tidak segan untuk menetapkan beberapa perilaku dan tegas dalam menentukan batasan. Mereka cenderung memiliki hubungan yang hangat dengan anaknya dan sensitive terhadap kebutuhan dan pandangan anaknya. Mereka cepat tanggap memuji keberhasilan anaknya dan memiliki kejelasan tentang apa yang mereka harapkan dan anaknya.

Pola asuh yang paling baik adalah jenis Authoritative. Anak yang diasuh dengan pola ini tampak lebih bahagia, mandiri dan mampu untuk mengatasi stress. Mereka juga cenderung lebih disukai pada kelompok sebayanya, karena memiliki ketrampilan sosial dan kepercayaan diri yang baik.

  1. Pola asuh Authoritarian/Otoriter

Pola asuh ini cukup ketat dengan apa yang mereka harapkan dan anaknya dan hukuman dan perilaku anak yang kurang baik juga berat. Peraturan diterapkan secara kaku dan seringkali tidak dijelaskan secara memadal dan kurang memahami serta mendengarkan kemamuan anaknya. Penekanan pola asuh ini adalah ketaatan tanpa bertanya dan menghargai tingkat kekuasaan. Disiplin pada rumah tangga ini cenderung kasar dan banyak hukuman.

Anak dan orang orang tua yang Authoritarian cenderung untuk lebih penurut, taat perintah dan tidak agresif, tetapi mereka tidak memiliki rasa percaya din dan kemampuan mengontrol dirinya terhadap teman sebayanya. Hubungan dengan orang tua tidak juga dekat. Pola asuh jenis ini terutama sulit untuk anak laki-laki, mereka cenderung untuk lebih pemarah dan kehilangan minat pada sekolahnya lebih awal. Anak dengan pola asuh ini jarang mendapat pujian dan orang tuanya sehingga pada saat mereka tumbuh dewasa, mereka cenderung untuk melakukan sesuatu karena adanya imbalan dan hukuman, bukan karena pertimbangan benar atau salah.

  1. Pola asuh Permissive/Permisif

Orang tua pada kelompok ini membiarkan anaknya untuk menampilkan dirinya dan tidak membuat aturan yang jelas serta kejelasan tentang perilaku yang mereka harapkan. Mereka seringkali menenima atau tidak peduli dengan perilaku yang buruk. Hubungan mereka dengan anaknya adalah hangat dan menerima. Pada saat menetukan batasan, mereka mencoba untuk memeberikan alasan kepada anaknya dan tidak menggunakan kekuasaan untuk mencapai keinginan mereka.

Hasil pola asuh dan orang tua permisif tidak sebaik hasil pola asuh anak dengan orang tua Authoritative. Meskipun anak-anak ini terlihat bahagia tetapi mereka kurang dapat mengatasi stress dan akan marah jika mereka tidak memperoleh apa yang mereka inginkan. Anak-anak ini cenderung imatur. Mereka dapat menjadi agresif dan dominant pada teman sebayanya dan cenderung tidak berorientasi pada hasil.

Meskipun hasil penelitian cukup jelas, tetapi perilaku manusia tidaklah hitam putih. Hampir semua orang tua melakukan ketiga jenis pola asuh ini.

Bagaimana cara mengasuh

Mengasuh anak adalah proses mendidik agar kepribadian anak dapat berkembang dengan baik dan ketika dewasa menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab. Mengasuh anak bukanlah dimulai saat anak dapat berkomunikasi dengan baik, tetapi dilakukan sendiri mungkin (sejak lahir).

Cara mengasuh anak sebaiknya disesuaikan dengan tahap perkembangan anak yaitu :

  1. 1.      Sejak lahir sampai 1 tahun

Dalam kandungan, anak hidup serba teratur, hangat, dan penuh penlindungan. Setelah dilahinkan, anak sepenuhnya bengantung terutama pada ibu atau pengasuhnya. Pada masa ini anak perlu dibantu untuk mempertahankan hidupnya. Pencapaian pada tahap ini untuk mengembangkan rasa percaya pada lingkungannya. Bila nasa percaya tak didapat, maka timbul rasa tak aman, rasa ketakutan dan kecemasan. Bayi belum bisa bercakap-cakap untuk menyampaikan keingmnannya, ia menangis untuk menarik perhatian orang. Tangisannya menunjukkan bahwa bayi membutuhkan bantuan. Ibu harus belajar mengerti maksud tangisan bayi. Keadaan dimana saat bayi membutuhkan bantuan, dan mendapat respon yang sesuai akan menimbulkan rasa percaya dan aman pada bayi. ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi. Dengan pemberian ASI seorang bayi akan didekap ke dada sehingga merasakan kehangatan tubuh ibu dan terjalinlah hubungan kasih sayang antara bayi dan ibunya. Segala hal yang dapat mengganggu proses menyusui dalam hubungan ibu anak pada tahap ini akan menyebabkan terganggunya pembentukan rasa percaya dan rasa aman.

  1. 2.      Usia 1 – 3 tahun

Pada tahap ini umumnya anak sudah dapat berjalan. Ia mulai menyadari bahwa gerakan badannya dapat diatur sendiri, dikuasai dan digunakannya untuk suatu maksud. Tahap ini merupakan tahap pembentukan kepercayaan diri.

Pada tahap ini, akan tertanam dalam diri anak perasaan otonomi diri, makan sendiri, pakai baju sendiri dll. Orang tua hendaknya mendorong agar anak dapat bergerak bebas, menghargai dan meyakini kemampuannya. Usahakan anak mau bermain dengan anak yang lain untuk mengetahui aturan permainan. Hal ini jadi dasar terbentuknya rasa yakin pada diri dan harga diri di kemudian hari.

  1. 3.      Usia 3 – 6 tahun (prasekolah)

Tahap ini anak dapat meningkatnya kemampuan berbahasa dan kemampuan untuk melakukan kegiatan yang bertujuan, anak mulai memperhatikan dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya.

Anak bersifat ingin tahu, banyak bertanya, dan meniru kegiatan sekitarnya, libatkan diri dalam kegiatan bersama dan menunjukkan inisiatif untuk mengerjakan sesuatu tapi tidak mementingkan hasilnya, mulai melihat adanya perbedaan jenis kelamin kadang-kadang terpaku pada alat kelaminnya sendiri.

Pada tahap ini ayah punya peran penting bagi anak. Anak laki-laki merasa lebih sayang pada ibunya dan anak perempuan lebih sayang pada ayahnya. Melalui peristiwa ini anak dapat mengalami perasaan sayang, benci, iri hati, bersaing, memiliki, dll. Ia dapat pula mengalami perasaan takut dan cemas. Pada masa ini, kerjasama ayah-ibu amat penting artinya.

  1. 4.      Usia 6 – 12 tahun

Pada usia ini teman sangat penting dan ketrampilan sosial mereka semakin berkembang. Hubungan mereka menjadi lebih baik dalam berteman, mereka juga mudah untuk mendekati teman baru dan menjaga hubungan pertemanan yang sudah ada.

Pada usia ini mereka juga menyukai kegiatan kelompok dan petualangan, keadaan ini terjadi karena terbentuknya identifikasi peran dan keberanian untuk mengambil risiko. Orang tua perlu membimbing mereka agar mereka memahami kemampuan mereka yang sebenarnya dan tidak melakukan tindakan yang berbahaya.

Anak pada usia ini mulai tertarik dengan masalah seks dan bayi, sehingga orang tua perlu untuk memberikan informasi yang dianggap sensitive ini secara

Dalam perkembangan ketrampilan mentalnya, mereka dapat mempertahankan keteratrikannya dalam waktu yang lama dan kemampuan menulis mereka baik. Anak pada usia ini seringkali senang membaca buku ilmu pengetahuan atau CD ROM. Mereka menikmati mencari dan menemukan informasi yang menarik minat mereka.

Anak mulai melawan orang tuanya, mereka menjadi suka berargumentasi dan tidak suka melakukan pekerjaan rumah. Orang tua perlu secara bijaksana menjelaskann pada mereka tugas dan tanggung jawabnya. Keberhasiln pada masa kanak akhir terlihat, jika mereka dapat berkarya dan produktif dikemudian han.

  1. 5.      Usia 12 – 18 tahun

Masa remaja bervariasi pada setiap anak, tapi pada umumnya berlangsung antara usia 11 sampai 18 tahun. Di dalam masa remaja pembentukan identitas diri merupakan salah satu tugas utama, sehingga saat masa remaja selesai sudah terbentuk identitas diri yang mantap.

Pertanyaan yang sering pada masa remaja saat pembentukan identitas diri adalah : siapakah saya?, serta : kemanakah arah hidup saya? Jika masa remaja telah berakhir dan pertanyaan itu tidak dapat dijawab dan diselesaikan dengan baik, dapat terjadi apa yang dinamakan : krisis identitas, pada krisis identitas terjadi dapat menimbulkan kebingungan/kekacauan identitas dirinya. Unsur-unsur yang memegang peran penting dalam pembentukan identitas diri adalah : pembentukan suatu rasa kemandirian, peran seksual, identifikasi gender, dan peran sosial serta perilaku.

Berkembangnya masa remaja terlihat saat Ia mulai mengambil berbagai macam nilai-nilai etik, baik dan orang tua, remaja lain dan ia menggabungkannya menjadi suatu sistem nilai dan dirinya sendiri.

Pada masa remaja, numah merupakan landasan dasar (base), sedangkan ‘dunianya” adalah sekolah maka bagi remaja hubungan yang paling penting selain dengan keluarganya adalah dengan teman sebaya. Pengertian dari rumah sebagai landasan dasar adalah, anak dalam kehidupan seahari-hani tampaknya ia seolah-olah sangat bergantung kepada teman sebayanya, tapi sebenarnya Ia sangat membutuhkan dukungan dan orang tuanya yang sekaligus harus berfungsi sebagai pelindung di saat ia mengalami krisis, baik dalam dirinya atau karena faktor lain. Pada masa ini penting sekali sikap keluarga yang dapat berempati, mengerti, mendukung, dan dapat bersikap komunikatif dua anak dengan sang remaja dalam pembentukan identitas diri remaja itu.

Dengan berakhirnya masa remaja dan memasuki usia dewasa, terbentuklah dalam suatu identias diri. Keberhasilan yang diperoleh atau kegagalan yang dialami dalam proses pencapaian kemandirian merupakan pengaruh dari fase-fase perkembangan sebelumnya. Kegagalan keluarga dalam memberikan bantuan/dukungan itu secara memadai, akan berakibat dalam ketidak mampuan anak untuk mengatur dan mengendalikan kehidupan emosinya. Sedangkan keberhasilan keluarga dalam pembentukan remaja telah mengambil nilai-nilai etik dari orang tua dan agama, ia mengambil nilai-nilai apa yang terbaik bagi dia dan masyanakat pada umumnya. Jadi penting bagi onang tua untuk memberi teladan yang baik bai remaja, dan bukan hanya menuntut remaja berperilaku baik, tapi orang tua sendiri tidak berbuat demikian

Kesimpulan

Dan apa yang telah dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa pola asuh penting untuk diperhatikan. Pola asuh yang paling baik adalah jenis authoritative/ demokrasi, anak dengan pola asuh ini tampak lebih bahagia, mandiri, mampu untuk mengatasi stress, memiliki ketrampilan sosial dan mempunyai kepercayaan diri yang baik. Dengan mendapatkan pola asuh yang baik dan tepat dapat membentuk kepribadian yang kuat pada seseorang.

Kepribadian yang kuat menjadikan anak dan remaja siap menghadapi pengaruh lingkungan dan mengambil nilai-nilai etik yang positif sehingga anak dan remaja mampu produktif dan didasari oleh kepribadian yang “sehat” (kemampuan remaja untuk bertahan terhadap pengaruh negatif lingkungan). Kepribadian yang sehat ini dapat mencegah timbulnya berbagai masalah psikososial pada dirinya, antara lain masalah seks bebas, penyalahgunaan zat dan obat terlarang, dll.

About these ads

2 gagasan untuk “Pola Asuh Dalam Keluarga

  1. ass. wr.wb bpk rudi,
    maaf nih pak sy mau menanyakan tentang pendidikan seks pd anak itu apa kah ada dlm Fungsi manifes guru,Kurikulum yang digunakan,Teoriruang kelas, dan Sertifikasi guru.
    mohon blsanya y pak terima kasih.

  2. Saya setuju dengan pola asuh yang paling baik adalah jenis authoritative/ demokrasi,apalagi dilengkapi dengan cara kita sebagai orang tua memberi contoh atau teladan yang menjadi kebanggaan putra putri kita.Kita sebagai orang tua tidak hanya berkat ” sebaiknya kamu begini nak….,sebaiknya kamu begini nak…,kamu jangan begitu nak….,kamu jangan begitu nak…gak baik…,gak baik…..”

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s